hikmah isro' mi'roj Nabi Muhammad SAW

by ahmad muslim on 04:34 PM, 06-Jun-13

Momentum Isra’ Mi’raj Nabi
Muhammad Saw dari Masjidil Haram
di Mekah ke Masjidil Aqsa di
Palestina kemudian naik ke Sidratul
Muntaha adalah peristiwa yang
sangat fenomenal dalam sejarah umat Islam. Mengapa demikian?
Karena dari peristiwa inilah Nabi
Muhammad SAW memperoleh
perintah ibadah wajib, yakni sholat
lima waktu yang langsung dari
Allah SWT. Perintah sholat ini kemudian
menjadi ibadah wajib bagi setiap
umat Islam dan memiliki
keistimewaan tersendiri
dibandingkan ibadah-ibadah wajib
lainnya. Sehingga, dalam konteks spiritual-imaniah maupun
perspektif rasional-ilmiah, Isra’
Mi’raj merupakan kajian yang tak
kunjung kering inspirasi dan
hikmahnya bagi kehidupan umat
beragama (Islam). Bersandar pada alasan inilah, Imam
Al-Qusyairi yang lahir pada 376
Hijriyah, melalui buku yang
berjudul asli ‘Kitab al-Mikraj’ ini,
berupaya memberikan peta yang
cukup komprehensif seputar kisah dan hikmah dari perjalanan agung
Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW,
beserta telaahnya. Dengan
menggunakan sumber primer,
berupa ayat-ayat Al-Quran dan
hadist-hadits shahih, Imam al- Qusyairi dengan cukup gamblang
menuturkan peristiwa fenomenal
yang dialami Nabi itu dengan
runtut. Selain itu, buku ini juga mencoba
mengajak pembaca untuk
menyimak dengan begitu detail
dan mendalam kisah sakral
Rasulullah SAW, serta rahasia di
balik peristiwa luar biasa ini, termasuk mengenai mengapa
mikraj di malam hari? Mengapa
harus menembus langit? Apakah
Allah berada di atas? Mukjizatkah
mikraj itu hingga tak bisa dialami
orang lain? Ataukah ia semacam wisata ruhani Rasulullah yang
patut kita teladani? Bagaimana dengan mikraj para
Nabi yang lain dan para wali?
Bagaimana dengan mikraj kita
sebagai muslim? Serta apa
hikmahnya bagi kehidupan kita?
Semua dibahas secara gamblang dalam buku ini. Dalam pengertiannya, Isra’ Mi'raj
merupakan perjalanan suci, dan
bukan sekadar perjalanan "wisata"
biasa bagi Rasul. Sehingga
peristiwa ini menjadi perjalanan
bersejarah yang akan menjadi titik balik dari kebangkitan dakwah
Rasulullah SAW. John Renerd dalam
buku ”In the Footsteps of
Muhammad: Understanding the
Islamic Experience,” seperti pernah
dikutip Azyumardi Azra, mengatakan bahwa Isra Mi'raj
adalah satu dari tiga perjalanan
terpenting dalam sejarah hidup
Rasulullah SAW, selain perjalanan
hijrah dan Haji Wada. Isra Mi'raj,
menurutnya, benar-benar merupakan perjalanan heroik
dalam menempuh kesempurnaan
dunia spiritual. Jika perjalanan hijrah dari Mekah
ke Madinah pada 662 M menjadi
permulaan dari sejarah kaum
Muslimin, atau perjalanan Haji Wada
yang menandai penguasaan kaum
Muslimin atas kota suci Mekah, maka Isra Mi'raj menjadi puncak
perjalanan seorang hamba (al-abd)
menuju sang pencipta (al-Khalik).
Isra Mi'raj adalah perjalanan
menuju kesempurnaan ruhani
(insan kamil). Sehingga, perjalanan ini menurut para sufi, adalah
perjalanan meninggalkan bumi
yang rendah menuju langit yang
tinggi. Inilah perjalanan yang amat
didambakan setiap pengamal
tasawuf. Sedangkan menurut Dr
Jalaluddin Rakhmat, salah satu
momen penting dari peristiwa Isra
Mi'raj yakni ketika Rasulullah SAW "berjumpa" dengan Allah SWT.
Ketika itu, dengan penuh hormat
Rasul berkata, "Attahiyatul
mubaarakaatush shalawatuth
thayyibatulillah"; "Segala
penghormatan, kemuliaan, dan keagungan hanyalah milik Allah
saja". Allah SWT pun berfirman,
"Assalamu'alaika ayyuhan nabiyu
warahmatullahi wabarakaatuh". Mendengar percakapan ini, para
malaikat serentak
mengumandangkan dua kalimah
syahadat. Maka, dari ungkapan
bersejarah inilah kemudian bacaan
ini diabadikan sebagai bagian dari bacaan shalat. Selain itu, Seyyed Hossein Nasr
dalam buku ‘Muhammad Kekasih
Allah’ (1993) mengungkapkan
bahwa pengalaman ruhani yang
dialami Rasulullah SAW saat Mi'raj
mencerminkan hakikat spiritual dari shalat yang di jalankan umat
islam sehari-hari. Dalam artian
bahwa shalat adalah mi'raj-nya
orang-orang beriman. Sehingga
jika kita tarik benang merahnya,
ada beberapa urutan dalam perjalanan Rasulullah SAW ini. Pertama, adanya penderitaan
dalam perjuangan yang disikapi
dengan kesabaran yang dalam.
Kedua, kesabaran yang berbuah
balasan dari Allah berupa
perjalanan Isra Mi'raj dan perintah shalat. Dan ketiga, shalat menjadi
senjata bagi Rasulullah SAW dan
kaum Muslimin untuk bangkit dan
merebut kemenangan. Ketiga hal
diatas telah terangkum dengan
sangat indah dalam salah satu ayat Al-Quran, yang berbunyi
"Jadikanlah sabar dan shalat
sebagai penolongmu. Dan
sesungguhnya yang demikian itu
sungguh berat, kecuali bagi orang-
orang yang khusyuk. (Yaitu) orang-orang yang meyakini,
bahwa mereka akan menemui
Tuhannya, dan bahwa mereka
akan kembali kepada-Nya." Mengacu pada berbagai aspek
diatas, buku setebal 178 halaman
ini setidaknya sangat menarik,
karena selain memberikan bingkai
yang cukup lengkap tentang
peristiwa Isra’ mikraj Nabi saw, tetapi juga memuat mi’rajnya
beberapa Nabi yang lain serta
beberapa wali. Kemudian
kelebihan lain dalam buku ini
adalah dipaparkan juga mengenai
kisah Mikrajnya Abu Yazid al- Bisthami. Mikraj bagi ulama
kenamaan ini merupakan rujukan
bagi kondisi, kedudukan, dan
perjalanan ruhaninya menuju
Allah. Ia menggambarkan rambu-rambu
jalan menuju Allah, kejujuran dan
ketulusan niat menempuh
perjalanan spiritual, serta
keharusan melepaskan diri dari
segala sesuatu selain Allah. Maka, sampai pada satu kesimpulan,
bahwa jika perjalanan hijrah
menjadi permulaan dari sejarah
kaum Muslimin, atau perjalanan Haji
Wada yang menandai penguasaan
kaum Muslimin atas kota suci Mekah, maka Isra Mi'raj menjadi
"puncak" perjalanan seorang
hamba menuju kesempurnaan
ruhani.

Share on Facebook Share on Twitter

Comments

No comments yet. Why not make the first one!

New Comment

[Sign In]
Name:

Comment:
(You can use BBCode)

Security:
Enable Images